Senin, 30 Maret 2020

Anekdot (Cerita Lucu)


Suatu ketika Gus Dur dan ajudannya terlibat percakapan serius
Ajudan: Gus, menurut Anda makanan apa yang haram?
Gus Dur: Babi
Ajudan: Yang lebih haram lagi
Gus Dur: Mmmm … babi mengandung babi!
Ajudan: Yang paling haram?
Gus Dur: Mmmm … nggg … babi mengandung babi tanpa tahu bapaknya dibuat sate babi!

Di suatu pojok kota surabaya terjadi percekcokan antara polisi dan tukang becak. Karena tidak semua halan yang ada di Surabaya boleh dilalui becak.
Ceritanya ada seorang tukang becak asal Madura yang pernah dipergoki oleh polisi ketika melanggar rambu “Becak dilarang masuk”. Tukang becak itu masuk ke jalan yang ada rambu gambar becak disilang dengan garis hitam yang berarti jalan itu tidak boleh dimasuki becak.
“Apa kamu tidak melihat gambar itu? Itu kan gambar becak tak boleh masuk jalan ini,” bentak Pak polisi. “Oh saya melihat pak, tapi itu kan gambarnya becak kosong tidak ada pengemudinya. Becak saya kan ada yang mengemudi, tidak kosong berarti boleh masuk,” jawab si tukang becak.
“Bodoh, apa kamu tidak bisa baca? Di bawah gambar itukan ada tulisan bahwa becak dilarang masuk,” bentak Pak polisi lagi.
“Tidak pak, saya tidak bisa baca, kalau saya bisa membaca maka saya jadi polisi seperti sampeyan, bukan jadi tukang becak begini,” jawab si tukang becak sambil cengengesan.

Di daerah Sidoarjo tepatnya di Sukodono ada klinik pengobatan, yang namanya Tombo Teko Loro Lungo, dan di situ tertulis : Berobat tidak sembuh uang kembali 10 kali lipat.
Setiap hari klinik itu sangat ramai karena slogannya menjanjikan, dikabarkan bahwa setiap pasen yang datang ke sana pasti sembuh, belum ada pasen yang komplain gara-gara tidak sembuh.
Mendengar yang demikian itu Sudrun iseng-iseng kepingin berobat kesana, tertarik tulisan yang ada di klinik itu :  Berobat tidak sembuh uang kembali 10 kali lipat. Sehingga Sudrun memutar akal supaya bisa mendapatkan uang dengan mudah.
Suatu hari Sudrun mempunyai rencana bahwa dia mempunyai penyakit aneh, yang diperkirakan klinik itu tidak akan mampu menyembuhkannya,
Sudrun : "Dokter, saya ini punya penyakit yang sangat aneh"
Dokter : "Penyakit apa mas"
Sudrun : "Saya itu kalau makan, mulut saya ini kok nggak terasa sama sekali, asin, manis, pedas, pokoknya nggak terasa sama sekali"
Dokter : "Penyakitnya hanya itu, penyakit yang begitu itu sangat mudah di sembuhkan". Lalu dokter memanggil asistennya untuk mengambilkan obatnya
Dokter : "Paijo, Tolong diambilkan obat di botol nomor 5" Obat itu diterima dokter dan dikasihkan pada Sudrun sambil berkata " Mas ini obatnya tolong diminum sekarang juga"
Sudrun : (Pura-pura nggak terasa apa-apa supaya uangnya dikembalikan 10 kali lipat), setelah diminum Sudrun keceplosan dengan berteriak sambil meso-meso ...... "Jiangkrikkkkk !!!!! Ini bukan obat Dok, ini kotoran kambing !!!! "
Dokter : "Wah.... berarti mas Sudrun sudah sembuh, mulutnya sudah bisa merasakan kotoran kambing"
Akhirnya Sudrun pulang dengan menggerutu, karena rencananya untuk mendapatkan uang 10 kali lipat gagal.
Beberapa hari kemudian, Sudrun iseng-iseng ke klinik itu lagi, kali ini dia punya rencana sangat jitu, untuk mendapatkan uangnya kemarin.
Sudrun : "Dok saya punya penyakit aneh lagi"
Dokter : "Penyakit apa lagi mas Sudrun "
Sudrun : "Dok, saya ini sekarang jadi mudah lupa (pelupa), baru 5 menit bicara, sudah lupa apa yang saya bicarakan"
Dokter : "Walah mas Sudrun, itu penyakit yang sangat mudah diobati"
Sudrum : "Iya dok cepet diobati" Dengan perasaan senang karena dia berharap dokter tidak dapat meyembuhkan penyakitnya, sehingga uang berobatnya dikembalikan 10 kali lipat.
Dokter : "Jo.... Jo .. Paijo... tolong diambilkan obat di botol nomor 5" Teriak dokter kepada asistennya
Sudrun : "Dok, jangan guyon, saya tidak mau di kasih obat di botol nomor 5"
Dokter : "Lhoh ... kenapa !!!!"
Sudrun : (Sepontan menjawab) " Itu bukan obat dok, itu kotoran kambing"
Dokter : "Lha ... itu kamu sudah ingat, bererti penyakit mas Sudrun sudah sembuh"
Sudrun : "Sudah dok, saya nggak sudi berobat ke sini lagi, masak setiap berobat ke sini selalu disuguhi kotorang kambing"
Sambil nggerutu Sudrun pulang, karena rencananya gagal total, jangankan untuk mendapatkan uangnya 10 kali lipat, untuk mempertahankan supaya tidak bayar dia tidak bisa.

Ini cerita Gus Dur tentang situasi Rusia, tidak lama setelah bubarnya Uni Soviet. Sosialisme hancur, dan para birokrat tidak punya pengalaman mengelola sistem ekonomi pasar bebas. Di masa sosialisme, memang rakyat sering antre untuk mendapatkan macam-macam kebutuhan pokok, tapi manajemennya rapi, sehingga semua orang kebagian jatah. Sekarang, masyarakat tetap harus antre, tapi karena manejemennya jelek, antrean umumnya sangat panjang, dan banyak orang yang tidak kebagian jatah.
Begitulah, seorang aktivis sosial berkeliling kota Moskow untuk mengamati bagaimana sistem baru itu bekerja. Di sebuah antrean roti, setelah melihat banyaknya orang yang tidak kebagian, aktivis itu menulis di buku catatannya, “roti habis.”
Lalu dia pergi ke antrean bahan bakar. Lebih banyak lagi yang tak kebagian. Dan dia mencatat “bahan bakar habis!”, kemudian dia menuju ke antrean sabun. Wah pemerintah kapitalis baru ini betul-betul brengsek, banyak sekali masyarakat yang tidak mendapat jatah sabun. Dia menulis besar-besar “SABUN HABIS!”.
Tanpa dia sadari, dia diikuti oleh seorang intel KGB. Ketika dia akan meninggalkan antrean sabun itu, si intel menegur “Hey bung! dari tadi kamu sibuk mencatat-catat terus, apa sih yang kamu catat?”.
Sang aktivis menceritakan bahwa dia sedang melakukan penelitian tentang kemampuan pemerintah dalam mendistribusikan barang bagi rakyat .
“Untung kamu ya, sekarang sudah jaman reformasi”, ujar sang intel, “Kalau dulu, kamu sudah ditembak”.
Sambil melangkah pergi, aktivis itu mencatat, “Peluru juga habis!

Seorang ajudan Presiden Bill Clinton dari Amerika Serikat sedang jalan-jalan di Jakarta. Karena bingung dan tersesat, dia kemudian bertanya kepada seorang penjual rokok. “Apa betul ini Jalan Sudirman?” “Ho oh,” jawab si penjual rokok.
Karena bingung dengan jawaban tersebut, dia kemudian bertanya lagi kepada seorang Polisi yang sedang mengatur lalu lintas. “Apa ini Jalan Sudirman?” Polisi menjawab, “Betul.”
Karena bingung mendapat jawaban yang berbeda, akhirnya dia bertanya kepada Gus Dur yang waktu itu kebetulan melintas bersama ajudannya. “Apa ini Jalan Sudirman?” Gus Dur menjawab “Benar.”
Bule itu semakin bingung saja karena mendapat tiga jawaban yang berbeda. Lalu akhirnya dia bertanya kepada Gus Dur lagi, mengapa waktu tanya tukang rokok dijawab “Ho oh,” lalu tanya polisi dijawab “betul” dan yang terakhir dijawab Gus Dur dengan kata “benar.”
Gus Dur tertegun sejenak, lalu dia berkata, “Ooh begini, kalau Anda bertanya kepada tamatan SD maka jawabannya adalah ho oh, kalau yang bertanya kepada tamatan SMA maka jawabannya adalah betul. Sedangkan kalau yang bertanya kepada tamatan Universitas maka jawabannya benar.”
Ajudan Clinton itu mengangguk dan akhirnya bertanya, “Jadi Anda ini seorang sarjana?”
Dengan spontan Gus Dur menjawab, “Ho … oh!”

Seorang jemaah haji asal Purwokerto, sebut saja namanya Fulan, sedang menunggu angkutan di sebuah halte dekat maktabnya untuk ke Masjidil Haram. Setiap kali bus datang, dia mengurungkan niatnya untuk naik. Bus datang lagi, urung lagi. Datang lagi, urung lagi. Begitu seterusnya dari pagi sampai menjelang waktu zuhur tiba.
Usut punya usut ternyata si Fulan tidak berani naik ke bus karena setiap berhenti di halte, kernetnya teriak: "Haram! Haram!".
"Si Fulan mengira kalau dia tak boleh naik ke bus karena kernetnya bilang `Haram. Haram!` seperti kondektur Metromini Jakarta yang bilang `Grogol.Grogol!," kata mantan Ketua PBNU KH Hasyim Muzadi sambil terkekeh-kekeh.
Saat dikasih tahu bahwa Fulan bukan tidak boleh naik bus melainkan bus itu memang jurusan Masjidil Haram, dia punya ide besar. Kelak jika kembali ke Tanah Air, dia akan bangun sebuah masjid yang akan dia beri nama "Masjidil Halal".
"Supaya jangan ada orang terkecoh seperti saya. Dikira haram, ternyata halal," kata si Fulan seperti diceritakan K.H. Hasyim Muzadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar